Pose

Pose
Garut, 1 Muharram 1432 H

Sunday, March 13, 2011

Memelihara Sikap Muraqabah

Allah SWT berfirman (yang artinya): Dia selalu bersama kalian di mana pun kalian berada(QS al-Hadid: 4); Sesungguhnya tidak ada sesuatupun yang tersembunyi di mata Allah, baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi (QS Ali Imran: 6); Allah mengetahui mata yang berkhianat [yang mencuri pandang terhadap apa saja yang diharamkan] dan apa saja yang tersembunyi di dalam dada (QS Ghafir: 19).
Sebagian ulama mengisyaratkan, ayat-ayat ini merupakan tadzkirah (peringatan) bahwa: Allah Maha Tahu atas dosa-dosa kecil, apalagi dosa-dosa besar; Allah Mahatahu atas apa saja yang tersembunyi di dalam dada-dada manusia, apalagi yang tampak secara kasat mata.

Di sinilah pentingnya muraqabah. Muraqabah (selalu merasa ada dalam pengawasan Allah SWT) adalah salah satu maqam dari sikap ihsan, sebagaimana yang pernah diisyaratkan oleh Malaikat Jibril as. dalam hadits Rasulullah SAW, saat kepada beliau ditanyakan: apa itu ihsan? Saat itu Malaikat Jibril as sendiri yang menjawab, “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat Dia. Jika engkau tidak melihat Allah maka sesungguhnya Dia melihat engkau.” (HR Muslim).
Demikian pula sebagaimana yang dinyatakan dalam hadits penuturan Ubadah bin ash-Shamit, bahwa Baginda Rasulullah SAW pernah bersabda, “Iman seseorang yang paling utama adalah dia menyadari bahwa Allah senantiasa ada bersama dirinya di manapun.” (HR al-Baihaqi, Syu’ab aI-Iman, I/470).
Dalam hadits lain Baginda Rasulullah bersabda, “Bertakwalah engkau dalam segala keadaanmu!” (HR at-Tirmidzi, Ahmad dan ad-Darimi).
Dalam Tuhfah al-Awadzi bi Syarh Jâmi’ at-Tirmidzi, disebutkan bahwa frase haytsumma kunta(dalam keadaan bagaimanapun) maksudnya dalam keadaan lapang/sempit, senang/susah, ataupun riang-gembira/saat tertimpa bencana (Al-Mubarakfuri, VI/104). Haytsumma kuntajuga bermakna: di manapun berada, baik saat manusia melihat Anda ataupun saat mereka tak melihat Anda (Muhammad bin ‘Alan ash-Shiddiqi, Dalil al-Falihin, I/164).
Terkait dengan sikap muraqabah atau ihsan ini, ada riwayat bahwa Umar bin al-Khaththab pernah menguji seorang anak gembala. Saat itu Umar membujuk sang gembala agar menjual domba barang seekor dari sekian ratus ekor domba yang dia gembalakan, tanpa harus melaporkannya ke majikan sang gembala. Toh sang majikan tak akan mengetahui karena banyaknya domba yang digembalakan. Namun, apa jawaban sang gembala. “Kalau begitu, di mana Allah? Majikanku mungkin memang tak tahu. Namun, tentu Allah Maha Tahu dan Maha Melihat,” tegas sang gembala.
****
Jujur harus kita akui, sikap muraqabah (selalu merasa dalam pengawasan Allah SWT), sebagaimana yang ditunjukkan oleh sang gembala dalam kisah di atas, makin jauh dari kehidupan banyak individu Muslim saat ini. Banyak Muslim yang berperilaku seolah-olah Allah SWT tak pernah melihat dia. Tak ada lagi rasa takut saat bermaksiat. Tak ada lagi rasa khawatir saat melakukan dosa. Tak ada lagi rasa malu saat berbuat salah. Tak ada lagi rasa sungkan saat berbuat keharaman. Setiap dosa, kemaksiatan keharaman dan kesalahan ‘mengalir’ begitu saja dilakukan seolah tanpa beban. Banyak Muslim saat ini yang tak lagi merasa risih saat korupsi, tak lagi ragu saat menipu, tak lagi merasa berat saat mengumbar aurat, tak lagi merasa berdosa saat berzina, tak lagi merasa malu saat selingkuh, dll. Semua itu terjadi akibat mereka gagal ‘menghadirkan’ Allah SWT di sisinya dan melupakan pengawasan-Nya atas setiap gerak-gerik dirinya. Mengapa gagal? Karena banyak individu Muslim yang awas mata lahiriahnya, tetapi buta mata batiniahnya. Mereka hanya mampu melihat hal-hal yang kasat mata, tetapi gagal ‘melihat’ hal-hal yang gaib: pengawasan Allah SWT; Hari Perhitungan, surga dan neraka, pahala dan siksa, dst. Yang bisa mereka lihat hanyalah kenikmatan dunia yang sedikit dan kesenangan sesaat. Tentu, kondisi ini harus diubah, agar seorang Muslim kembali memiliki sikap muraqabah.
****
Adanya sikap muraqabah pada diri seorang Muslim paling tidak dicirikan oleh dua hal. Pertama: selalu berupaya menghisab diri, sebelum dirinya kelak dihisab oleh Allah SWT.Kedua: sungguh-sungguh beramal shalih sebagai bekal untuk kehidupan sesudah mati. Dua hal inilah yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, “Orang cerdas adalah orang yang selalu menghisab dirinya dan beramal shalih untuk bekal kehidupan setelah mati. Orang lemah adalah orang yang selalu memperturutkan hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah SWT.” (HR at-Tirmidzi, Ahmad, Ibn Majah dan al-Hakim).
Ketiga: meninggalkan hal-hal yang sia-sia, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Di antara kebaikan keislaman seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tak berguna.” (HR at-Tirmidzi). Jika yang tak berguna saja-meski halal-ia tinggalkan, apalagi yang haram.
Itulah di antara wujud sikap muraqabah. Semoga kita adalah pelakunya. [] abi

Lebih Lengkapnya...

Saturday, January 8, 2011

Cikurai, Sebuah Catatan Perjalanan

Cikurai, Sebuah Catatan Perjalanan

Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang.Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. Ar- Ra'd:3)


 

Team Pendakian Cikurai 1432 H

Bhaskara Affarras

Zaenal Arifin

Ny. Zaenal Arifin

Fajar Mario

Zie van Maung


 

Keberangkatan

Trayek

Armada

Tarif per orang(update 4/12/2010)

Cikarang -Cileunyi

Primajasa Cikarang-Tasik

Rp 18.000

Cileunyi-Term. Guntur

Primajasa AC Jakarta-Garut

Rp 12.000

Term. Guntur-PTPN(Dayeuh Manggung)

Kurnia Bakti Jakarta-Garut-Singaparna

Rp 5.000

Pulang

Trayek

Armada

Tarif per orang

Pos Satpam-Gapura PTPN

Motor

Rp 10.000 (kondisi malam,hujan dan tidak ada kendaraan lain)NB:bisa lebih murah neee

Gapura PTPN-Ps Limbangan

Mobil Elf

Rp 5.000

Pasar-Rumah Ozi(ds.Cibiuk)

Mobil charteran

Rp 80.000 (satu mobil)

Rm Ozi-Ps Limbangan

Mobil Elf

Rp 2.000

Ps Limbangan-Cikarang

Doa Ibu Tasik-Cikarang

Rp 25.000

   

Tabel Pengeluaran Ongkos selama Perjalanan Pulang-Pergi

Assalamualaikum wr wb…..

Sobat Blogger, kali ini perkenankan ane berbagi kisah dan cerita tentang perjalanan ane yang luar biasa melelahkan namun berkesan selama liburan Tahun Baru Hijriyah 1432 H tempo hari.

Tujuan perjalanan kali ini adalah menuju kota Garut, dan lebih tepatnya lagi adalah dalam rangka mendaki gunung Cikurai (2.818 Mdpl). Sekedar informasi, gunung Cikurai merupakan gunung tertinggi nomor satu di Garut, tertinggi nomor 4 di Jawa Barat setelah Gunung Ciremai, Gunung Gede Pangrango,dan Gunung Salak. Untuk menuju gunung Cikurai, kendaraannya cukup mudah dan berlimpah. Kalo dari term. Kp Rambutan, cari aja bis Karunia Bakti "Jakarta-Garut", yang ciri khas bisnya berwarna hijau. Berhubung ane dan kawan-kawan berangkat dari Cikarang, maka kami "seharusnya" menumpang bis Karunia Bakti "Cikarang-Garut". Tapi berhubung waktu keberangkatan kami saat itu lewat dari jam operasional bis Karunia Bakti Cikarang-Garut, maka sampai dengan ba'da Isya, kami putuskan untuk menumpang bis Primajasa trayek Cikarang-Tasikmalaya, turun di Cileunyi (Tarif dapat dilihat di Tabel Pengeluaran Ongkos selama Perjalanan Pulang-Pergi )

Dari Gerbang tol Cileunyi (Padaleunyi), sekira pukul 22.30 WIB, kami lanjut mencari bis ke arah Garut, dilalah datanglah bis Primajasa AC Jakarta-Garut, tanpa pikir panjang, kita langsung nyetop bis tersebut.

Kurang lebih 1,5 jam perjalanan (sekira pukul 00.00 WIB), sampailah kita di terminal Guntur Garut. Sesampainya di terminal, ane segera mencari mushola untuk menjalankan ibadah shalat Isya, dan tak lupa untuk nyari makanan untuk mengisi perut yang sudah amat keroncongan ini.

Di terminal Guntur, ada seorang kawan yang memang sudah dihubungi sebelumnya untuk dapat berpartisipasi dalam pendakian kali ini. Dia seorang mahasiswa part time (lhaaa…aneh yaa, hihihi, yah gitu keterangan yg saya dapat) anyway, sebut saja bro Ozi yang merupakan putra daerah (begitu yang sering terlontar dari doi…hehehe) Garut. Dari Ozi, kita diinfokan untuk menumpang bis Karunia Bakti trayek Jakarta-Garut-Singaparna. Sekira pukul 02.00 WIB, kita diturunkan di persimpangan menuju PT. Perkebunan Nusantara VIII Kebun Dayeuh Manggung, di pertengahan jalan raya Patrol menuju Singaparna.

Naah, sebenarnya dari sini ada pangkalan ojeknya, berhubung masih dalam kondisi pagi buta, mungkin tukang ojeknya belum bangun…hehehehe. Kalo pun ada, pastinya gag akan naik ojek, lha wong Rp 30,000 pas seorang satu motornya untuk sampai pos pemancar/relay stasiun televisi(POS 1) atau Rp 5000 – Rp 10,000 sampai pos security perkebunan, tempat awal registrasi.

So..disepakati untuk lenggang kangkung alias jalan kaki menuju pos perkebunan. Perjalanan ini hanya butuh sekira 45 menit. Setelah berjalan kurang lebih 45 menit, sampailah kita di pos security perkebunan. Dan otomatis, sepi bangeud, karena memang jam-jamnya orang pada tidur (security juga orang brooo, makanya tidur juga dieee…). Kita menunggu datangnya Shubuh, sekalian daftar untuk perijinan pendakian.

Shubuh tiba, kami datang ke pos menemui bapak security bernama pak Anas dan pak Ma'ruf yang sudah terjaga dari tidur lelapnya. Bla..bla..bla…..ijin , naruh KTP saya, en bayar Rp 2,000 untuk iuran masuk perkebunan teh.

Sesuai kondisi fisik tim yang full ngantuk, kita numpang mushola kantor perkebunan untuk "bongkar" muatan, plus shalat Shubuh. Sembari menunggu matahari nongol, kita tidur-tiduran dulu di Mushola itu. Setelah matahari merangkak keluar dari peraduannya, satu persatu dari tim bergantian ke kamar mandi yang ada di kantor perkebunan, untuk "melampiaskan" hajatun udhowiyyah masing-masing. (hajatun udhowiyyah = kebutuhan jasmani yang mendesak, pen.)

Setelah sarapan, dan packing, sekira pukul 07.00 WIB, tim bersiap-siap melanjutkan kembali perjalanan. Dengan mengharap ridlo dari Allah SWT, kami pun berdoa dan start melangkahkan kaki menuju POS 1 yang merupakan stasiun relay dari beberapa stasiun televisi kenamaan di tanah air (TVRI, SCTV, Indosiar, TPI, Metro TV,dan ANtv).

Sepanjang perjalanan, kami mendapati hamparan perkebunan teh yang kalau kamu-kamu yang pernah melintas di jalur Puncak Pass, Bogor, pasti sudah dapat merasakan apa yang kami rasakan saat itu, dan rasa itu adalah Subhanallah takjub akan kuasa Allah Sang Maha Pencipta Segala Sesuatu yang Indah.

Waktu tempuh normal dari pos perkebunan hingga stasiun relay (Pos 1) adalah 2-3 jam berjalan kaki. Dan kami tiba sekira pukul 10.00 WIB di stasiun relay tersebut. Dari stasiun relay menuju Puncak Cikurai, menurut referensi rata-rata pendakian normal (bukan trekking, apalagi ngesot…hehehe) membutuhkan waktu tempuh 6 – 8 jam. Dan sebagai informasi juga, kami melengkapi perbekalan berupa air di pos ini, karena untuk pos-pos berikutnya jangan berharap akan berjumpa dengan air mata, eh mata air.. so, kudu disiapin botol kosong atau jerycan kosong yang akan dipakai untuk menampung air, dengan perhitungan pemakaian untuk naik dan turunnya nanti.

Kami beristirahat sekira satu jam, dan di pos ini pula kami bertemu dengan kelompok pendaki lain yang juga berasal dari Cikarang, mereka berjumlah 4 orang. Karena cuaca sudah terlihat agak mendung, maka setelah packing dan berdoa bersama, kami lanjutkan lagi perjalanan dengan jalur membelah perkebunan teh. Dan jalur perkebunan teh ini merupakan kawasan perkebunan terakhir yang kami temui. Lepas dari perkebunan teh, kami mulai menapaki jalan terjal menuju kawasan hutan. Di samping kiri kami sangat jelas nampak jurang yang cukup curam. Sampai sekira satu jam perjalanan, kami rehat sejenak untuk menunaikan ibadah shalat Dzuhur. Kondisi cuaca sudah mulai berkabut, ditambah udara yang dingin.

Tak lama setelah shalat dan memulai perjalanan kembali, turunlah hujan yang cukup deras. Berhubung dari tim kami ada dua orang yang tidak membawa jas hujan (karena kelupaan), maka diputuskan untuk membuka tenda di tempat yang dirasa cukup untuk mendirikan tenda. Dan ternyata agak sulit untuk mendapatkan lahan yang pas atau datar untuk tenda kami, sehingga terpaksa perjalanan masih berlanjut dalam kondisi hujan-hujanan. Sekira setengah jam bermandikan air hujan, kami berhasil mendapati lahan yang cukup untuk mendirikan tenda, dan tanpa pertimbangan bahwa perjalanan mungkin tinggal beberapa jam lagi, akhirnya kami bermalam di tempat tersebut.

Sekira dini hari pukul 02.00 WIB, kami disapa oleh 3 orang pendaki yang melintas di depan tenda kami, kami hanya mengucap "assalamualaikum!" dan melanjutkan tidur kembali. Setelah puas terlelap tidur tanpa mimpi sama sekali, kamipun terbangun pada waktu Shubuh, dan bersegera melaksanakan shalat Shubuh. Usai Shalat Shubuh, salah satu di antara kami, bro Zie van Maung, alias Ozi, menyiapkan kompor plus bahan-bahan makanan yang masih tersisa untuk dihidangkan sebagai sarapan pagi. Meski malas-malas sarapan, tapi mengingat perjalanan masih panjang, maka ane hajar aja apa yang udah dimasak oleh bro Ozi. Mubadzir kalo ga dimakan apalagi kalo ga dihabisin.

Sarapan beres, maka agenda berikutnya adalah trekking menuju puncak Cikurai. Tanpa membawa carrier, dan hanya membawa satu daypack, serta tas pinggang di masing-masing individu tim. Kamipun segera mempersiapkan diri dan berdoa bersama untuk kelancaran perjalanan berikutnya.

Dari tempat kami berkemah menuju puncak, bila dihitung dengan waktu tempuh normal, akan memakan waktu perjalanan kurang lebih 3-4 jam. Berhubung kita melangkah tanpa membawa carrier, maka Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT, akhirnya tim sampai di puncak Cikurai, 2.818 mdpl, pada pukul 10.00 WIB. Sesampainya di puncak tertinggi Gunung Cikurai, ane bersujud syukur dan kemudian mengambil dokumentasi sebanyak-banyaknya untuk "oleh-oleh" bagi kawan-kawan yang tidak dapat kesempatan menikmati indahnya Puncak Cikurai ini.

Sekitar satu jam lebih sedikit berada di Puncak, maka kami pun memutuskan untuk turun kembali. Sedikit catatan bagi kami adalah, kekecewaan kami pada para pengunjung atau pendaki yang entah lupa atau sengaja meninggalkan sampah-sampah makanannya di sepanjang area pendakian, bahkan tak sengaja kami pun menemukan kotoran manusia yang "terbuang" tidak jauh dari jalur pendakian resmi…..huft….ampyuuun….setidaknya mereka lebih bertanggung jawab demi kelestarian Gunung Cikurai ini, sebab pada siapa lagi harus mengadu, kalau bukan dari kesadaran pribadi masing-masing.

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." TQS Ar Ruum:41

Setelah kembali ke tenda dan packing, kamipun segera menuruni Cikurai. Kurang lebih pukul 17.30 WIB, kami sudah sampai di pos perkebunan. Bersih-bersih, dan shalat Maghrib, setelah itu mencari kendaraan menuju persimpangan Dayeuh Manggung. Karena tidak dapat menemukan kendaraan sama sekali, maka terpaksa kami menerima tawaran dari pengurus perkebunan yang menawarkan mengantar kami dengan 4 motor, dan "tariff" nya Rp 10.000 per motor itu.

Sampai disini, catatan perjalanan ane belum berakhir, hanya saja sekian untuk momentum Pendakian Gunung Cikurai, dan catatan berikutnya adalah Catatan perjalanan pulangnya kami menuju Cikarang……………..

Alhamdulillah, rasa penasaran akan puncak Cikurai telah terobati, yang namanya mendaki gunung plus berjalan kaki pastilah capek dan lelah, tetapi ada unsur kepuasan batin yang ane dapatkan, pertama, rasa takjub akan keMahaBesar-an Allah SWT yang telah menciptakan gunung Cikurai beserta isinya yang masih dapat kita rasakan dengan berbagai balutan nikmat iman, Islam dan sehat wal 'afiat. Keduanya adalah sebagai momentum menyambut datangnya tahun baru Islam 1 Muharram 1432 H, yang bertepatan dengan tanggal 7 Desember 2010 Masehi. Dan yang terakhir, ane puas dapat bersilah ukhuwah dengan kawan lama, yang notabene tidak sengaja bertemu di Garut…

Jam menunjukkan pukul 21.00 di kawasan pasar Limbangan, Garut. Sedangkan kondisi cuaca juga gerimis, sesekali bertambah deras. Mengingat waktu yang semakin malam, maka keputusan untuk bermalam di kediaman kawan kami, Fauzi, tak terhindarkan.

Dengan mencarter kendaraan pribadi sejenis Suzuki carry, sebesar Rp 80.000, kami menuju kediaman Fauzi, dan bermalam di sana (Ds. Cibiuk).

Selama di rumah kawan kita itu, kami berkesempatan untuk menjemur pakaian-pakaian kami yang basah kuyup setelah diterpa hujan seharian di saat perjalanan turun dari gunung Cikurai. Dan yang membuat ane terkesima adalah saat menyicipi sambal Cibiuk…..weleh-weleh..ajiip…

Puas bercengkerama dengan alam pedesaan di sekitar kediaman Fauzi, kamipun tak bisa berlama-lama, karena libur kerja sudah habis, besoknya pun kami harus kembali menjalankan rutinitas sebagai pekerja di tempat kami masing-masing.

Setelah pamitan, kami diantar sampai pasar Limbangan dan menunggu kedatangan bus antarkota, "Doa Ibu" trayek Tasikmalaya-Cikarang. Tak lupa kami memenuhi carrier kami yang kebetulan sudah mulai ringan dengan oleh-oleh khas Garut….dodol dan kawan-kawannya…..sebagai buah tangan bagi keluarga masing-masing.

Demikian kurang lebih yang dapat ane ceritakan kepada bro en sis sekalian (bagi yang baca aja sih, yang ga baca, ya gapapa sekalian nimbrung).

Mari lestarikan alam dengan cara kita masing-masing, dan cintai alam sebagaimana kita mencintai diri kita serta orang-orang terdekat kita……kalo kata para Pendaki….Salam Lestari….dan begitu mesranya bahasa-bahasa yang terungkap terkait alam, maka itu harus dibuktikan pula dengan sikap kita….Jangan Menodai Alam dengan Sampah!!!!

Wallahu a'lam bi ashshawwab..wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sampai berjumpa di Catper berikutnya…….


 


 

Lebih Lengkapnya...

Wednesday, December 1, 2010

Menggapai Pertolongan Allah Dengan Qiyamul Layl

Menggapai Pertolongan Allah Dengan Qiyamul Layl

Seorang muslim bukanlah manusia yang gemar menghabiskan hidupnya hanya untuk bersantai-santai dan membuang waktu. Tapi sifat seorang muslim adalah yang digambarkan oleh Allah Ta'ala dalam firmanNya:


"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo`a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka."(QS. as-Sajdah: 16).


 

Seorang muslim yang ingin dimuliakan Allah gemar melakukan qiyamul layl. Inilah salah satu cara bertaqarrub yang dicintai Allah dari hamba-hambaNya. Menghidupkan sebagian malam untuk beribadah dengan shalat malam, berzikir dan membaca al-Quran. Di saat banyak orang tertidur pulas, atau menghabiskan malam dengan kegiatan tak berguna – begadang, menonton televisi, keluyuran, atau di klab-klab malam --, seorang muslim yang mengharapkan kemuliaan dari Rabbnya, bangun, membasuh tubuhnya dengan air wudlu yang dingin, bersiwak, lalu mengerjakan aneka ibadah kepada Rabbnya.

Lantunan ayat al-Quran yang dikumandangkannya di sebagian malam, lalu disambung dengan aneka doa, akan membuahkan kebaikan yang tak ternilai dari Allah Ta'ala. Al-Khaliq dan Pemilik langit serta bumi, ini berjanji akan memberikan kedudukan yang terpuji di sisi segenap mahlukNya, dan di sisiNya.


"Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji."(QS. al-Isra: 79).

Sangat pantas Allah memberikan kemuliaan bagi orang-orang yang bergegas dengan penuh semangat dan keikhlasan mengerjakan ibadah pada malam hari. Ia membutuhkan pengorbanan dan hanya sedikit orang yang sudi mengerjakannya. Kebanyakan orang justru lebih suka melampiaskan nafsu tidurnya pada sebagian malam terakhir. Bahkan sebagian lagi tertidur pulas melewati waktu subuh.

Sebagian malam yang akhir adalah kesempatan untuk banyak bermunajat kepada Allah, karena itu adalah saat terdekat untuk memanjatkan aneka permohonan. Allah mendengarkan semua pujian untukNya dan permintaan dan permohonan tolong dari hamba-hambaNya.


"Sedekat-dekat Rabb dengan hambaNya adalah pada pertengahan malam yang akhir. Jika kamu mampu menjadi orang yang mengingat Allah pada waktu itu maka lakukanlah."(HR. Nasaiy).

Ada sejumlah keutamaan yang Allah tebarkan khusus bagi orang-orang yang menghidupkan malam harinya dengan mendekatkan diri kepadaNya. Antara lain:

1. Mendapatkan kedudukan yang mulia yang dijanjikan Allah Ta'ala:



 


 

"Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji."(QS. al-Isra: 79).

2. Mengikuti jejak langkah orang-orang soleh terdahulu, dan mendekatkan diri kepada Allah serta mendulang pengampunan atas segala kesalahan. Nabi saw. juga menyebutkan bahwa qiyamul layl adalah mencegah dosa dan penangkal penyakit fisik.


Rasulullah shollallahu 'alaih wa sallam bersabda : "Kerjakanlah sholat malam sebab ia merupakan kebiasaan orang-orang sholeh sebelum kamu pada zaman dahulu. Ia juga merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah ta'aala, sebagai penebus amal kejahatan-kejahatanmu, pencegah dosa dan penangkal penyakit pada badan."(HR Tirmidzi 3472).

3. Mempersiapkan diri menjadi salah satu penghuni surga


"Sesungguhnya di surga terdapat tempat-tempat yang tinggi, luarnya tampak dari dalam dan dalamnya tampak dari luar yang dipersiapkan untuk orang-orang memberi makan orang yang membutuhkan, melunakkan ucapan, memperbanyak puasa, dan sholat (malam) ketika manusia tertidur."(HR. Ahmad).

Marilah kita gunakan hidup kita sebagai kesempatan untuk selalu dekat dengan Allah. Hanya Allah yang bisa memberikan bantuan dan pertolongan. Melapangkan segala kesempitan dan membuka simpul-simpul kesulitan hidup di dunia dan akhirat. Hidupkanlah malam hari kita untuk mendekatiNya, karena Ia amat senang dengan orang-orang yang menghidupkan malam dengan ibadah kepadaNya.[]

Diedit dengan sedikit perubahan dari www.dakwahkampus.com oleh Prabu ALfatih, @2010

Lebih Lengkapnya...

Sunday, November 28, 2010

Monday, November 15, 2010

Khutbah Idul Adha 1431 H: Membangkitkan Jiwa Berkorban untuk Menegakkan Khilafah Islamiyyah


الله أكبر 3 x الله أكبر 3 x الله أكبر 3 x

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ هُوَ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ ِللهِ  القَائِلِ وَللهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ اْلبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً، أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ الَّذِي وَعَدَ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ اَرْسَلَهُ الَّذِي كَانَ هُوَ بَشِيْرًا وَ نَذِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيْدِنَا مُحَمَّدٍ اْلمَبْعُوْثِ بِاْلقُرْآنِ، الَّذِي فِيْهِ هُدًى لِلنَّاسِ وَ بَيِّنَةٍ مِنَ اْلهُدَى وَ اْلفُرْقَانِ، وَعَلىَ اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُ إِلىَ يَوْمٍ لَيْسَ فِيْهِ سُلْطَانٌ، إِلاَّ لِمَنْ آمَنَ وَ عَمِلَ عَمَلاً صَالِحًا.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِي بِتَقْوَاللهِ وَ طَاعَتِهِ لَعَلَّكْمْ تُفْلِحُوْنَ.

Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhilhamd.

Ma'âsyira al-Muslimîn Rahimakumullâh,

Hari ini, umat Islam di seluruh dunia merayakan hari Raya Idul Adha. Pada hari ini pula, umat menampakkan diri sebagai umat satu. Umat yang diikat oleh akidah yang sama, yaitu akidah Islam. Dan diatur dengan hukum yang sama, yaitu hukum Islam.

Di tengah hari yang bahagia ini, kita masih diselimuti bertumpuk duka. Berbagai musibah telah dan sedang menimpa umat ini. Palestina, Irak, Afghanistan masih dalam cengkeraman AS dan Israel. Sementara negeri Islam yang lain terperosok dalam penjajahan sosial budaya ekonomi politik pendidikan dan pertahanan keamanan disebabkan para penguasanya adalah antek penjajah kafir. Demikian pula negeri ini, terus dilanda bencana susul-menyusul. Banjir Wasior, tunami Mentawai dan letusan Merapi menambah luka bencana sebelumnya yang belum mengering. Duka dan luka itu semakin menyakitkan terasa ketika para penguasa negeri ini lebih suka plesir ke luar negeri daripada segera menolong rakyatnya.

Pertanyaannya, sampai kapan kondisi ini akan terus terjadi? Apa yang menyebabkan kondisi umat yang dinyatakan oleh Allah sebagai umat terbaik ini begitu menyedihkan? Sampai kapan kita terus berdiam diri, membiarkan seluruh keyakinan dan kehormatan kita dilucuti selembar demi selembar dari tubuh kita hingga hampir-hampir tidak tersisa lagi?

Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhilhamd.

Ma'âsyira al-Muslimîn Rahimakumullâh,

Sesungguhnya Allah Swt dan Rasulullah saw telah menunjukkan solusi tuntas bagi kita atas seluruh problematika ini. Yakni ketaatan total tanpa syarat kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan total itu dapat terwujud sempurna dengan penerapan syariah secara kaffah dalam naungan Khilafah. Kewajiban menegakkan Khilafah ini telah menjadi ijma' seluruh ulama sebagaimana penjelasan al-Imam al-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim.

Panutan dan teladan kita, Rasulullah saw tidak hanya menyampaikan risalah, namun juga menerapkan risalah itu dalam kehidupan bernegara. Tatkala beliau kembali ke haribaan-Nya, wilayah negaranya meliputi seluruh Jazirah Arab. Negara yang diwariskan Rasulullah saw itulah yang disebut sebagai khilafah, kepala negaranya disebut dengan Khalifah. Namun sayangnya, negara itu kini telah tiada, setelah dihancurkan kaum Kafir penjajah, Inggris dan sekutunya, bekerjasama dengan Musthafa Kamal Attaturk, la'natu-Llah 'alayhim.

Tiadanya khilafah inilah yang membuat umat Islam lemah tak berdaya menghadapi musuh-musuhnya. Kondisinya persis seperti yang digambarkan Nabi saw: laksana makanan di atas nampan yang dikerumuni musuh-mushnya. Jumlahnya besar, namun seperti buih yang diombang-ambingkan gelombang

Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhilhamd.

Ma'âsyira al-Muslimîn Rahimakumullâh,

Pada Hari Raya Idul Adha kita selalu diingatkan kisah tentang ketataan seorang Ibrahim as dan Ismail as dalam mengerjakan perintah Tuhannya. Ibrahim bersedia menyembelih putranya, sementara Ismail rela disembelih. Sikap dilakukan untuk membuktikan ketaatan mereka kepada Tuhannya. Inilah ketaatan total yang seharusnya dilakukan setiap hamba kepada Tuhannya.

Apakah sikap kita sudah seperti itu? Apakah kita telah memiliki ketaatan total kepada Allah dan Rasul-Nya? Sudahkah kita mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya dalam setiap perintah dan larangan-Nya?

Ketika Allah memerintahkan kita shalat, kita segera melaksanakannya. Ketika memerintahkan kita berpuasa, kita juga segera melaksanakannya. Ketika kita dilarang memakan Babi, kita pun segera meninggalkannya. Lalu, mengapa ketika Allah memerintahkan kita untuk menerapkan hukum-hukum-Nya, kita abai? Mengapa ketika Allah memerintahkan kita melaksanakan sistem ekonomi berdasarkan hukum-hukum-Nya, kita tidak menunaikannya? Begitu pun ketika Allah memerintahkan kita melaksanakan sistem pemerintahan berdasarkan hukum-hukum-Nya, kita tidak melaksanakannya? Bukankah kita tahu, bahwa hanya dengan hukum-hukum-Nya kehidupan kita akan menjadi lebih baik, dan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat? Bukankah kita juga tahu, bahwa tanpa sistem pemerintahan Islam yang mampu mempersatukan umat, yakni Khilafah Islamiyah, umat ini menjadi lemah dan hina?

Lihatlah, kondisi politik, ekonomi, militer, sosial, budaya dan semua bidang kehidupan umat Islam saat ini. Semuanya dalam kondisi yang terpuruk. Kehidupan mereka dikuasai, dikontrol, disetir dan dijajah oleh musuh-musuh mereka. Kita hanya jadi pengekor yang tunduk dan patuh kepada orang-orang Kafir penjajah. Lihatlah, berapa ratus triliun rupiah telah dihabiskan untuk melaksanakan sistem demokrasi, yang nyatanya tidak membawa kebaikan bagi kehidupan mereka. Lihatlah ide-ide HAM, liberalisme, sekularisme, kapitalisme, dan segala isme-isme yang lain, yang jelas bertentangan dengan Islam, justru diterapkan oleh umat ini, karena mengekor orang-orang Kafir penjajah? Kita rela tunduk dan patuh kepada musuh Allah, Rasul-Nya dan orang Mukmin, sebaliknya rela mengkhianati Allah SWT dan Rasul-Nya. Jadilah kita umat yang hina. Terpuruk dalam kenistaan, kemiskinan, dan kebodohan. Jadilah kita korban keserakahan mereka hingga nyawa pun tidak ada harganya. Nyawa umat Islam begitu murah. Realitas di Palestina, Irak, Afghanistan, Kashmir, Moro, Pattani dan tempat lainnya menjadi buktinya. Ini terjadi justru ketika Nabi telah menitahkan dalam Haji Wada':

«فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ»

"Sesungguhnya darah kalian, harta dan kehormatan kalian adalah merupakan kemuliaan bagi kalian, sebagaimana kemuliaan hari ini, di bulan ini dan di negeri ini."

Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhilhamd.

Ma'âsyira al-Muslimîn Rahimakumullâh,

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as itu juga memberikan gambaran cinta yang benar. Bahwa cinta yang hakiki hanyalah cinta kepada Allah SWT. Adapun cinta kepada makhluk diletakkan di bawah cinta kepada-Nya. Inilah yang kita saksikan dengan terang dari sikap Nabiyullah Ibrahim as.; betapa kecintaan Ibrahim kepada putra yang paling ia cintai tetap diletakkan di bawah cintanya kepada Allah SWT. Sikap ini jelas sesuai dengan tuntunan Allah SWT sendiri, yang telah menyuruh kaum Muslim untuk menempatkan cinta mereka kepada Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaan kepada yang lain, bahkan di atas kecintaan kepada diri mereka sendiri (lihat QS at-Taubah [9]: 24).

Sayangnya, ketulusan cinta kepada Allah Swt yang ditunjukkan oleh Ibrahim as dan Ismail as itu  belum banyak diteladani umat Islam saat ini. Banyak di antara kita yang masih didominasi oleh cinta kepada selain Allah daripada cinta kepada-Nya. Akibatnya, lebih mencintai  dunia dibandingkan akhirat; lebih mencintai keluarganya daripada berdakwah dan memperjuangkan agamanya; lebih mencintai harta ketimbang berjihad di jalan-Nya; lebih mencintai kekuasaan ketimbang memperjuangkan kemuliaan Islam; bahkan lebih mencintai musuh-musuh Islam ketimbang kaum Muslim.

Tidak aneh jika kita baru saja dipertontonkan sikap sebagian kaum Muslim di negeri ini, khususnya para penguasa mereka, yang lebih mencintai seorang Obama-penguasa negara penjajah- daripada merasakan penderitaan kaum Muslim di Afganistan, Irak dan Pakistan yang terus menderita; yang semuanya menjadi korban keganasan Amerika yang notabene Obama sebagai kepala negaranya. Para penguasa di negeri ini seolah lupa, bahwa saat mereka menyambut hangat kedatangan pemimpin negara penjajah itu, pada saat yang sama, pasukan negara penjajah itu –yang tentu di bawah komando Obama– terus membunuhi saudara-saudara mereka di Afganistan, Irak dan Pakistan. Bahkan Amerika, hingga hari ini, tetap mendukung penuh penjajahan dan kekejaman Israel atas kaum Muslim di Palestina. Para penguasa itu seolah lupa, bahwa meski mereka mencintai orang-orang kafir, sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan pernah mencintai mereka; bahkan tetap membenci mereka. Mahabenar Allah SWT yang berfirman:

هَا أَنتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلَا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ

Begitulah kalian. Kalian menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kalian; dan kalian mengiman al-Kitab seluruhnya. Jika mereka menjumpai kalian, mereka berkata, "Kami beriman." Jika mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kalian (QS Ali Imran [3]: 119).

Yang lebih parah, para penguasa itu pun malah merumuskan kesepakatan kemitraan komperehensif dengan negara kafir penjajah tersebut. Mereka seolah lupa, bahwa Allah SWT telah mengharamkan kaum Muslim untuk menjadikan orang-orang kafir itu sebagai mitra/sahabat.  Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِّن دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang yang berada di luar kalangan kalian sebagai mitra/sahabat kalian, karena mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemadaratan atas kalian dan mereka menyukai apa saja yang menyusahkan kalian (QS Ali Imran [3]: 118).

Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhilhamd.

Ma'âsyira al-Muslimîn Rahimakumullâh.

Kecintaan yang tulus tentulah akan melahirkan sikap berkorban yang juga tulus. Karena begitu cintanya kepada Allah Swt, Ibrahim as tanpa ragu mengorbankan cintanya kepada putranya. Hal yang sama ditunjukkan oleh Ismail as. yang juga rela mengorbankan dirinya sebagai konsekuensi dari perintah Allah Swt itu.

Amat disayangkan, jiwa pengorbanan dalam menjalankan syariah ini tidak terlihat dalam kehidupan sebagian besar umat ini. Bahkan, tidak sedikit di antara mereka yang menjalani kehidupan seperti orang-orang kafir. Dari Senin hingga Jumat atau Sabtu, waktunya habis digunakan mencari uang. Sabtu atau ahad dihabiskan bersenang-senang. Tak pernah terpikir tentang mengkaji Islam, berdakwah apalagi menegakkan khilafah. Siang malam hanya disibukkan untuk mengejar dunia, dipusingkan dengan mengkredit rumah, mobil, motor bertahun-tahun lamanya hingga tiba-tiba mati.

Padahal, satu-satunya jalan menuju keselamatan dunia akhirat adalah bersegera melaksanakan syariah-Nya. Menjadi pejuang bagi tegaknya syariah sebagaimana Rasulullah saw dan para sahabat radhiyallahu anhum. Menempuh jalan ini dengan bersungguh-sungguh istiqomah terus-menerus dengan menanggung seluruh resiko dan pengorbanan. Para sahabat Nabi saw begitu masuk Islam langsung menjadi pejuang Islam hingga mereka wafat. Sementara kebanyakan kita sudah muslim dari bayi tapi hingga mati tak penah menjadi pejuang Islam. Sungguh kenyataan ini wajib segera kita ubah.

Rasulullah saw dan para sahabat telah menghabiskan hidupnya dengan beribadah, mengkaji ilmu, berdakwah, bekerja mencari nafkah, mengurus isteri dan anak-anak, berjihad fi sabilillah dan menerapkan Syariah Islam kaffah kepada seluruh rakyat saat menjadi pemimpin. Inilah yang harus kita contoh. Jika kita saat ini sudah beribadah mahdhah, bekerja mencari nafkah, menuntut ilmu-ilmu ibadah dan mengurus keluarga. Maka sesungguhnya ini masih belum cukup. Kita harus menambahnya dengan  menuntut ilmu yang komprehensif dan berdakwah demi tegaknya syariah dan  Khilafah, dan ikut berjihad fî sabîlil-Lah.

Rasulullah saw dan para sahabatnya telah menjadikan perjuangan dakwah untuk menerapkan Syariah dalam bingkai Negara Islam Madinah sebagai perkara hidup dan mati. Bahwa Beliau saw tidak akan mundur selangkahpun sampai kemenangan datang atau binasa dalam perjuangan. Beliau saw bersabda:

«وَاَللّهِ لَوْ وَضَعُوا الشّمْسَ فِي يَمِينِي، وَالْقَمَرَ فِي يَسَارِي عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا الأَمْرَ حَتّى يُظْهِرَهُ اللّهُ أَوْ أَهْلِكَ فِيهِ مَا تَرَكْتُهُ».

"Demi Allah, andai saja mereka bisa meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, (lalu mereka minta) agar aku meninggalkan urusan (agama) ini, maka demi Allah, sampai urusan (agama) itu dimenangkan oleh Allah, atau aku binasa di jalannya, aku tetap tidak akan meninggalkannya." (Hr. Ibn Hisyam)

Karenanya wajib bagi kita umat Islam, untuk terus-menerus berjuang untuk menerpkan Syariat Islam dengan menegakkan Khilafah, sebagai bentuk kesungguhan kita dalam beribadah kepada Allah Swt. Dengan menanggung segala resiko hingga kita dimenangkan Allah Swt atau kita binasa karenanya. Tidak pantas kita menjadikan segala kenikmatan dunia sebagai alasan untuk tidak berjuang. Jika kita menjadikan kesibukan kerja, mengurus anak isteri, mengurus bisnis, mengurus orang tua, mengurus jabatan atau apapun juga sebagai alasan untuk tidak berjuang jangan sampai Allah akan mencabutnya dari kita. Ataupun jika masih ada di tangan kita maka Allah Swt mencabut keberkahannya untuk kita. Hingga semua itu hanya akan menjadi penyesalan tiada berkesudahan di dunia dan akhirat. Wahai Umat Muhammad, belum waktunya kah kita bergerak? Masih haruskah kita menunggu? Hingga semuanya terlambat dan tidak ada kesempatan lagi? Marilah kita bersegera bergabung dengan jutaan Umat Islam lain di seluruh dunia dalam satu barisan yang kokoh untuk berjuang.

Marilah kita menjadikan peristiwa haji dan kurban sebagai inspirasi dan motivasi bagi kita semua untuk selalu tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya sekaligus untuk senantiasa berkorban dalam perjuangan menerapkan syariah Islam secara kaffah, tentu dalam institusi Khilafah Islamiyah 'ala Minhaj an-Nubuwwah.

Akhirnya, marilah kita memohon kepada Allah, semoga Allah Swt mengabulkan seluruh permohonan kita. Semoga Allah Swt memberi kita kesabaran dan kekompakan, serta memungkinkan kita berperan penting dalam upaya menegakkan dan memperjuangkan negara Khilafah.

اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنا وَأَصْلِحْ لنا دُنْيَانا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لنا آخِرَتنا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لنا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لنا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَلاَ نَكْفُرُكَ وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَخْلَعُ مَنْ يَفْجُرُكَ، اَللَّهُمَّ عَذِّبِ الْكَفَرَةَ الذِّيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ وَيُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَاءَكَ.

اَللَّهُمَّ اَهْزِمْهُمْ وَدَمِّرْهُمْ، وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ، وَاجْعَلْ تَدْمِيْرَهُمْ فِيْ تَدْبِيْرِهِمْ، اَللَّهُمَّ اهْزِمْ جُيُوْشَ الْكُفَّارَ الْمُسْتَعْمِرِيْنَ، أَمْرِيْكَا وَبَرِيْطَانِيَا وَحُلَفَاءِهَا الْمَلْعُوْنِيْنَ.

اللَّهُمَّ سَلِّمْنَا وَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ عَافِنَا وَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ قِنَا وَ إِيَّاهُمْ شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَ الدِّيْنِ.

اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَءَ وَ الْبَلاَءَ وَ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرْ وَ السُيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَ السَّدَائِدَ وَ الْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنْ مِنْ بَلاَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَ مِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةَ الرَّاشِدَةَ عَلَى مِنْهَاجِ نَبِيِّكَ، تُعِزُّ بِهَا دِيْنَكَ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَطُغْيَانَهُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَيَاخَيْرَ النَّاصِرِيْنَ.

آمين.

Lebih Lengkapnya...

Alamat Anda

IP